Toni Malakian posts at 9:46 AM on Sunday, July 19, 2009

  • Indonesia-Blast, Indonesia Berduka
  • pagi itu aku masih tidur. jam setengah sebelas aku telpon kakak kelasku yang bekerja di sebuah surat kabar harian.

    "gimana, gimana kabar, masih di sana?", katanya.

    "iya, masih-masih. ada nomor telpon mas arif gak? minta ya, lagi liputan mas?", jawabku.

    "iya bntar ya. iya, ini aku lagi liputan bom. meledak di jw marriott. 8 orang meninggal", jelasnya.

    lama aku diam. "hmm...berulah lagi", gumamku.
    lantas aku nonton tivi. bayanganku sudah gak karuan.

    selama kurun 5tahun sejak serangan 2003, kondisi mulai kondusif. orang-orang mulai melupakan trauma.

    kini trauma pun menghantui. semakin ia menyisakan kegelapan, mencekam, belasungkawa yang dalam untuk korban, juga kita yang terisak. beberapa skets berikut aku abadikan untuk mengenang.

    semoga semua tabah. amin.





    Toni Malakian posts at 7:47 AM on Saturday, July 04, 2009

  • Barrack Obama
  • Labels: , ,

    Toni Malakian posts at 4:55 AM on Saturday, May 30, 2009

  • Karikatur

  • Jaya Suprana

    berBudi anduk

    Tukul

  • Riri Riza
  • Toni Malakian posts at 5:17 AM on Wednesday, April 29, 2009

  • Ron Howard
  • Toni Malakian posts at 11:17 PM on Sunday, April 26, 2009

  • Karikatur
  • Kuss Indarto, an art curator. a member of national gallery curators.



    Hamka Yandhu, a corruption suspect.



    In Memorial of Timbul Suhardi, an Indonesian comedian of Srimulat comedian group.

  • President of Turkmenistan
  • Jean Couteau (Art Curator)
  • Karikatur 13042009
  • Toni Malakian posts at 12:00 AM on Saturday, April 18, 2009

  • PENGUMUMAN
  • LOMBA KARTUN NASIONAL MKIB 2009 PEREMPUAN INDONESIA MASA KINI

    LKN MKIB 2009 telah ditutup pada tanggal 1 April 2009, dengan total peserta mencapai 236 orang dan jumlah karya 459 gambar. Penilaian dan penjurian dilaksanakan di Museum Kartun Indonesia Bali pada hari Jumat, 3 April 2009 dihadiri oleh keempat Dewan Juri yaitu :
    1. Pramono R. Pramoedjo (Ketua)
    2. Priyanto Sunarto (anggota)
    3. Putu Wirata Dwikora (anggota)
    4. Mas Ruscitadewi (anggota)
    Dan, setelah melihat, menimbang kemudian memutuskan bahwa nama-nama berikut ini adalah para pemenangnya:
    • Pemenang I : Tommy Thomdean (Jakarta), judul Caleg Takut Istri
    • Pemenang II : Eko Wahyu Widiyanto (Semarang), judul Emansipasi Wanita
    • Pemenang III : Basnendar (Solo), judul Gelombang Emansipasi
    • Harapan 1 : Muchid Rahmat (Kaliwungu), judul Berjuang Menuju Kesetaraan Gender
    • Harapan 2 : Joko Luwarso (Jakarta), judul Demi Cinta
    • Harapan 3 : Zaenal Abidin (Kendal), judul Genk Cewek / Nero

    Penyerahan hadiah kepada para pemenang 1, 2 dan 3 Lomba Kartun Nasional akan diadakan pada hari Sabtu, 18 April 2009 di Museum Kartun Indonesia Bali pada pukul 18.00 wita, bertepatan dengan pembukaan pameran kartun Perempuan Indonesia Masa Kini yang akan dibuka oleh Ayu Laksmi (seniman bali). Piagam penghargaan kepada para pemenang harapan dan para peserta yang karyanya terpilih untuk dipamerkan dalam Pameran Kartun Perempuan Indonesia Masa Kini akan dikirimkan ke alamat masing-masing.

    Berikut nama-nama peserta pameran kartun Perempuan Indonesia Masa Kini yang karyanya dipamerkan di Museum Kartun Indonesia Bali, 18 – 28 April 2009 :


    Abdul Aziz
    Achmad Cholid
    Adiet Firmansyah
    Ady Riyadi
    Alam Senjaya Putra
    Agus Doni Prasetyo
    Agustu Suprapto
    Arif E.H
    Basnendar H
    Budi Santoso
    Cons. Tri Handoko
    C. Warsono
    Danny Adil S.H
    Diki Sutanto
    Dini Tresna Dewi N
    Djoko Susilo
    Eko Wahyu Widiyanto
    Faisal UA
    Fatchurrahman
    Feri Widyo
    Gede Lingga Ananta K.P
    I Komang Swakarma Satwika
    I Wayan Dania
    Ika Wartika Burhan
    Ikhsan Dwiono
    Joko Luwarso
    Kartika Suyata
    M. Rois Abidin
    Muchid Rahmat
    Much. Sobirin
    Muhammad Najib
    Nassirun
    R. Sugiri
    Rizki Alam Katamsi
    Ronny
    Slamet Widodo
    Sjahidul Haq Chotib
    Syafrudin
    Tauris Mustafa
    Tommy Thomdean
    Tony F. Wicaksono
    Wahyudi
    Zaenal Abidin
    Zainal Beta



    Selamat kepada para pemenang dan terima kasih kepada seluruh peserta Lomba Kartun Nasional MKIB 2009 dan Pameran Kartun Perempuan Indonesia Masa Kini atas partisipasi dan semangatnya. Salam Kartun!


    Hormat kami,


    Ruth Onduko
    Ketua Pelaksana LKN MKIB 2009
    & Pameran Kartun Perempuan Indonesia Masa Kini

    Toni Malakian posts at 12:38 PM on Thursday, January 29, 2009

  • OPINION
  • Jajanan Otak-Otak berbahan calon legislatif


    BLT jilid ironis


    Besar Koalisi Dari Pada Konsep


    Lembaga Legislatif Adalah Ladang Bisnis


    Dana Tak Jelas



    Hidup Adalah Citra (Lotion kulit?)


    They're all creation, save them.

    Toni Malakian posts at 6:56 AM on Wednesday, January 28, 2009

  • Kampanye a la pejabat negara
  • Kampanye dengan dana negara

    Oleh: Ikrar Nusa Bhakti





    Pemilu kurang dari tiga bulan lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, masing-masing didampingi oleh kelompok menteri yang berbeda, belakangan ini seringkali meninggalkan ibukota negara untuk mengunjungi berbagai daerah. Ini merupakan perpaduan antara acara resmi kenegaraan dan kampanye politik, secara terpisah bagi Partai Demokrat dan Partai Golkar. Pekan lalu saja, Presiden SBY melakukan “safari lompat katak” dari Batam di Kepulauan Riau ke Sorong dan Manokwari di Papua Barat. Dalam perjalanan pergi dan pulang, Presiden dan rombongan mampir di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Bali. Di Papua Barat Presiden SBY selain membantu para korban gempa juga menyerahkan dana sebesar Rp 150 milyar untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Anehnya, Gubernur Papua Barat Abraham Atururi yang terpilih sebagai gubernur dengan dukungan PDI-P pada dua tahun lalu, justru mengatakan,”Dana ini akan ditawarkan kepada kita (rakyat Papua Barat) jika presiden terpilih kembali. Karena itu saya berdoa agar bapak SBY jadi presiden kita lagi.” Mendengar ucapan itu Presiden dan ibu negara tersenyum. PNPM Mandiri adalah salah satu program utama yang dicanangkan SBY pada 2007 (The Jakarta Post, January 24, 2009).

    Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla tak henti-hentinya menyambangi pesantren-pesantren di tanah Jawa. Kamis pekan lalu misalnya, Wapres Jusuf Kalla mengunjungi pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Di hadapan sekitar 12000 santri, Wapres mengatakan bahwa pemerintah tidak membedakan dana pendidikan bagi sekolah umum dan pesantren. Para Kyai di Lirboyo sebaliknya juga membuka diri bagi Partai Golkar. Di hadapan para petani di Jawa Timur, Wapres juga menyetakan akan mempertahankan agar harga beras tetap tinggi agar petani tidak dirugikan (The Jakarta Post, January 24, 2009).

    Tak hanya presiden dan wakil presiden yang belakangan ini kerap kali ke daerah, para menteri pun sudah lebih dahulu melakukannya. Sambil menyelam minum air, dalam setiap kesempatan ke daerah mereka tak menghilangkan kesempatan untuk berkampanye bagi partainya. Kita tak tahu, lembaga mana yang akan mengaudit pengeluaran para pejabat tinggi negara itu, apakah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Suka tidak suka, kunjungan resmi yang diselingi kampanye politik jelas-jelas menggunakan uang negara yang juga uang rakyat.

    Pekan lalu Menteri Dalam Negeri Mardiyanto menyatakan bahwa Depdagri sudah menyiapkan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur aturan kampanye bagi para pejabat negara, antara lain, bagi para menteri yang akan mencalonkan diri untuk menjadi anggota DPR, presiden atau wapres, harus mengundurkan diri. PP ini memang positif tapi agak aneh. Mengapa ia hanya mengatur untuk para menteri saja? Bagaimana dengan presiden dan wakil presiden. Di negara mana pun, seorang Presiden, Wapres, Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri, dan para menteri tidak harus mengundurkan diri dari jabatannya jika ia mencalonkan diri kembali. Aturan ini memang ditujukan agar pejabat negara tidak menyalahgunakan kekuasaannya menggunakan dana negara untuk kampanye politik. Aturan semacam ini juga ada di berbagai negara, auditnya juga jelas dilakukan setelah pemilu berlangsung. Anehnya mengapa para menteri harus mundur? Ini untuk mencegah penghamburan uang negara atau agar Presiden tidak menghadapi saingan dari bekas para menterinya seperti ketika SBY menantang mantan bosnya, Presiden Megawati Sukarnoputri, pada pemilu 2004?

    Dalam dua bulan terakhir ini kampanye mengenai keberhasilan PNPM Mandiri juga secara menggebu-gebu diiklankan berbagai suratkabar, radio dan televisi, seolah-olah itu adalah bentuk dari keberhasilan program pemerintah SBY sejak 2007. Padahal kita tahu PNPM (Mandiri) bukanlah program baru. Program ini sudah ada sejak sebelum era reformasi, dijalankan oleh Departemen Dalam Negeri dengan nama Program Pembangunan Kecamatan (PPK). Nama program itu diubah oleh Presiden SBY pada 2007. Dana bagi program ini juga tak sepenuhnya dari anggaran pemerintah murni. Sebagian berasal dari hutang lunak (loan) dari Bank Dunia yang jumlahnya tidak terlalu besar, total dalam sepuluh tahun terakhir ini sekitar AS$400 juta. Tahun 2009 ini pemerintah juga meminta dari Bank Dunia sekitar AS$300.000 untuk PNPM.

    Hampir 70% dari program PNPM Mandiri difokuskan untuk pembangunan infrastruktur, dari perbaikan sekolah, jembatan, jalan raya, puskesmas, koperasi dsb. Semua program itu bersifat bottom up alias dari bawah. Menariknya, program ini baru bisa berjalan baik jika ada supervisor di kabupaten dan para fasilitator yang semuanya digaji melalui proyek Bank Dunia (Community Development PNPM Support Facilities). Menariknya lagi, tak sedikit pemerintah kabupaten di Indonesia yang tidak tertarik untuk memberikan dana pendamping untuk program PNPM. Alasannya, karena ini program pemerintah pusat dan bukan pemerintah kabupaten. Alasan terselubungnya, PNPM dananya tidak bisa dikorupsi karena bersifat in kind (bukan bentuk duit tapi program jadi atau barang). Dari sisi masyarakat PNPM memang banyak manfaatnya, walau dari segi uang dananya amat kecil. Tanpa PNPM memang sulit bagi rakyat untuk menikmati pembangunan. Tapi dari sisi politik pemerintahan, ini mirip dengan gaya Orde Baru yang menerapkan program langsung dari pusat tapi melemahkan sistem pemerintahan lokal. Sisi buruk lainnya, program ini belakangan juga berbau politik, mirip dengan masa Orba, jika daerah tertentu tidak mendukung Golkar (masa lalu) daerah itu tidak dibangun. Kini bentuknya ialah kalau daerah ini memilih SBY lagi, maka dana PNPM akan digelontorkan lagi seperti di Manokwari itu.

    Incumbent yang maju lagi dalam pemilu presiden memang lebih diuntungkan. Ia bisa mengklaim program pemerintah sebagai program partainya atau pribadinya. Ia bisa kampanye ke berbagai daerah berkedok kunjungan resmi. Ia bisa memerintahkan departemen pemerintah membangun bangunan di daerah basis lawan politiknya agar orang beralih mendukungnya, seperti yang terjadi di Tampak Siring, Bali. Ia juga bisa membuat peraturan pemerintah agar para menterinya tidak dapat bersaing dengan dirinya. Pertanyaannya, apakah itu bukan korupsi politik?

    Labels: , , ,

    Toni Malakian posts at 1:28 AM on Sunday, January 25, 2009

  • map end of 2008 by israel
  • Toni Malakian posts at 7:27 AM on Monday, January 19, 2009

  • Control of Policy
  • Toni Malakian posts at 9:16 AM on Tuesday, January 06, 2009

  • Centaur 2009
  • Toni Malakian posts at 6:51 AM on Thursday, January 01, 2009

  • Brutality
  • Labels: ,

    Toni Malakian posts at 2:27 AM on Thursday, November 27, 2008

  • Gellu Naum
  • Gellu Naum (1 august 1915, - 29 september 2001, Bucureşti)
    watercolours on paper. Nov. 2008

  • Jeff Bridges
  • Jeff Bridges, one of stars on Ironman.

    Toni Malakian posts at 5:17 AM on Thursday, November 13, 2008

  • Super Seto
  • Seto Mulyadi lahir di Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951. Ia dikenal sebagai psikolog anak, pembawa acara program anak dan pemerhati masalah anak-anak. Bahkan akibat 'kepiawaiannya', pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini, dipercaya untuk kali kedua sebagai Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

    Dengan jabatan tersebut, pria penerima Men’s Obsession Award 2006 itu menjadi sasaran pengaduan bagi mereka yang menghadapi persoalan anak. Termasuk kasus 'rebutan' anak yang banyak dialami oleh para selebritis yang mengalami perceraian.

    Kak Seto yang pernah menjadi pembawa acara televisi program anak-anak bersama dengan Henny Purwonegoro itu, sering mengungkapkan keprihatinan kondisi anak di Indonesia. Terutama mereka yang menjadi korban kekerasan dan terpaksa tidak bisa menjalani perkembangan secara normal.

    Kak Seto sendiri adalah suami dari Deviana dan bapak bagi Eka Putri Duta Sari (18), Bimo Dwi Putra Utama (15), Shelomita Kartika Putri Maharani (10), dan Nindya Putri Catur Permatasari (8). Ia memiliki saudara kembar bernama Kresno Mulyadi (Kak Kresno) yang juga seorang psikolog anak dan juga memiliki kakak Maruf Mulyadi.
    Sumber data profil: Kapanlagi.com

    Labels: ,

    Toni Malakian posts at 4:55 AM on Saturday, November 01, 2008

  • Karikatur - Syekh "P"
  • Beberapa hari yang lalu, khususnya di daerah semarang, kabar seorang anak usia 11 tahun dinikahi pria berumur menggemparkan.

    adalah Lutviana Ulfah, reamaja yang baru duduk di kelas satu smp itu dinikahi Pujiono Cahyo Widianto, seorang pengusaha kaligrafi yang juga pemilik pondok pesantren miftahul jannah di semarang. ia menyebut dirinya sendiri dengan syekh puji.

    secara UU negara pernikahan itu sama sekali tak sah karena melanggar usia salah satu peserta nikah, Lutfiana Ulfa berusia 12tahun. Menurut UU PERKAWINAN NOMOR 1 TAHUN 1974 (1/1974) pada bab II pasal 7 ayat 1 bahwa disebutkan:

    (1). Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

    bahkah ia berencana akan menikahi dua perempuan yang lebih muda lagi. landasan pujiono bukan pada UU itu, melainkan pada historis agama. pujiono tak peduli dengan Peraturan itu, apalagi seruan KPAI, komisi perlindungan anak indonesia.
    BERLANJUT

    Toni Malakian posts at 9:35 PM on Sunday, August 17, 2008

  • PROKLAMASI
  • Toni Malakian posts at 3:51 AM on Sunday, August 03, 2008

  • tua muda
  • Toni Malakian posts at 11:40 PM on Friday, August 01, 2008

  • untitled
  • Toni Malakian posts at 11:30 PM on Saturday, July 19, 2008

  • Disoriented school
  • Labels:

  • Asing di kota sendiri
  • Labels:

  • Confused Multi-parties
  • Labels:

    Toni Malakian posts at 12:09 AM on Tuesday, July 15, 2008

  • BS
  • Labels: , , ,

    Toni Malakian posts at 6:07 AM on Saturday, July 12, 2008

  • Genocide in Gaza
  • International Gaza Cartoon (By E-mail) Contest-2008, Iran

    Labels: , ,

    Toni Malakian posts at 6:58 AM on Friday, July 11, 2008

  • Ion Victor Antonescu
  • Ion Victor Antonescu (June 15, 1882, Piteşti – June 1, 1946, near Jilava) was the prime minister and conducător (Leader) of Romania during World War II from September 4, 1940 to August 23, 1944.

    Labels: , , , , ,

    Toni Malakian posts at 11:46 PM on Thursday, July 10, 2008

  • Sutrisno Bachir
  • Labels:

    Toni Malakian posts at 3:56 AM on Sunday, June 29, 2008

  • Sutardji Calzoum Bachri
  • Labels: , ,

    Toni Malakian posts at 9:37 AM on Saturday, June 28, 2008

  • The King Ferdinand I of Romania
  • Toni Malakian posts at 6:42 AM on Friday, June 27, 2008

  • Masdi "Pak Bei" Soenardi meninggal dunia

  • image source: http://blog.faniez.net/2007/04/09/buku-pak-bei/


    Jam setengah tujuh, saban minggu pagi, aku jalan-jalan ke kawedanan kaliwungu. Kadang aku, sepupu, abangku atau berempat, bertiga hanya untuk minum kopi. Tentu saja sambil nongkrong di kios koran. Aku bawa KOMPAS sama Suara Merdeka saat pulang.

    Di KOMPAS ada panji komingnya Dwi Koen, Soekribo'nya Ismail, dan lainnya. Suara merdeka ada cantrik'nya Pri GS, kartun lepas dan tentu saja Pak Bei Masdi. Tiap hari Minggu aku memang sering beli koran itu. Tentu untuk bacaan santai, budaya, humaniora, seni, dan lainnya. selain itu ada yang lebih penting lagi; aku ingin tertawa dan terbahak-bahak dengan melihat halaman-halaman kartun itu.

    Tapi kini, ada yang hilang; kartunis pencipta tokoh Pak Bei, Masdi Soenardi telah tiada. Turut berduka atas kepergiannya. Semoga diterima di sisiNya. Aamiin.

    ***


    Masdi "Pak Bei" Meninggal
    Bercita-cita Dirikan Sanggar Tari Rakyat Borobudur



    TAK hanya keluarga dan sahabat, Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur juga sangat kehilangan dengan berpulangnya Masdi Soenardi (64), Rabu (25/6) dini hari sekitar pukul 02.30 di rumahnya Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Mantan kartunis Harian Suara Merdeka dengan rubrik ’’Pak Bei’’, menetap di tanah kelahiran istrinya, Murtilam, di pinggir Kali Sileng.

    Almarhum bisa merangkul seniman di kaki Candi Borobudur, sehingga dia didaulat menjadi penasihat Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur.
    ’’Kemarin (24/6) Pak Bei sehari tiga kali ke rumah saya, pagi, kemudian siang ketika mengantar istrinya belanja, dan sore hari. Minta diadakan pertemuan seniman pada 29 Juni 2008 membahas rencana mendirikan sanggar seni tari rakyat Borobudur. Jenengan menyiapkan kuenya, wedange saya,’’ kata Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur, Sucoro menirukan permintaan Masdi.

    Karena itu, Pimpinan Warung Info Jagad Cleguk Borobudur itu seakan tidak percaya ketika diberitahu ’’Pak Bei’’ meninggal. Cita-cita almarhum, sanggar seni tari itu untuk nguri-uri kesenian rakyat yang banyak tersebar di daerah tersebut.

    Film Pak Bei

    Bukan hanya itu cita-cita almarhum yang belum terealisasi. Sucoro menerangkan, dalam waktu dekat cerita ’’Pak Bei’’ akan dibuat film, pemain utamanya Susilo, yang dikenal sebagai Den Baguse Ngarso pada serial TVRI Yogyakarta.

    Pesan Pak Kancil-panggilan akrab Masdi, keberhasilan karyanya difilmkan agar bisa dicontoh seniman Borobudur. ’’Ini contoh bagi seniman-seniman muda Borobudur agar terus berkarya. Suatu saat karyanya pasti akan dihargai,’’ ungkap Sucoro mengutip petuah almarhum.

    Pelukis Borobudur, Umar Chusaeni mengatakan, almarhum merupakan kartunis di Jateng yang karyanya sangat menarik. Dia juga penyemangat seniman di Borobudur. Setelah pulang ke kampung halamannya, almarhum diterima baik semua seniman di sini, bahkan dianggap sebagai tokoh panutan. ’’Masukan-masukannya sangat positif bagi kemajuan seni di Borobudur. Kami sangat kehilangan seorang tokoh seniman,’’ kata Umar yang berjumpa tiga hari yang lalu.

    Murtilam, istrinya, tidak menyangka kalau suaminya akan meninggalkan keluarga selamanya. Sehabis nonton acara ’’Empat Mata’’ almarhum mengeluh sesak napas. Dia memang menderita penyakit jantung, dan sudah tujuh bulan tidak kontrol ke dokter. Alasannya, kondisi badannya sangat sehat. ’’Saya berusaha minta bantuan tetangga untuk mengantarnya ke dokter. Bapak saat itu tiduran di kursi, saya kira memang sudah tidur. Ketika dibangunkan ternyata sudah meninggal,’’ ungkapnya sendu.

    Edi Warsito, anak kedua almarhum membenarkan ayahnya memang bercita-cita mendirikan sanggar seni di pinggir rumahnya. Namun rencana itu mundur terus karena terbentur dana.

    Masdi meninggalkan istri, Murtilam, empat anak dan tiga cucu. Keempat anaknya adalah Sutopo Wintarto, Edi Warsito, Dahono Fitrianto, dan Inten Esti Pratiwi. Cucunya, Aria Danang Wijanarko, Ariana Nareswari, dan Luna Cahya Kinasih. Selamat jalan Pak Bei, karyamu tetap dikenang sepanjang masa, dan pasti dilanjutkan para seniman di kaki Candi Borobudur. (Doddy Ardjono-62)

    Source: www.suaramerdeka. com, 26 Juni 2008

    Labels: , ,

    Toni Malakian posts at 12:29 AM on Tuesday, June 24, 2008

  • PEOPLE
  • Labels: , ,

    Toni Malakian posts at 8:32 AM on Wednesday, June 18, 2008

  • DOUBLE POSITION